Diberdayakan oleh Blogger.

Membaca Lakon Semar Mbangun Kayangan dalam Bingkai Ke-UI-an




Saya beri judul tulisan ini: “Membaca Lakon Semar Mbangun Kayangan dalam Bingkai Ke-UI-an” bukan tanpa alasan. Alasan pertama, judul ini merupakan lakon wayang yang dibawakan oleh Ki Begug Poernomosidi dan kawan-kawan pada akhir bulan September lalu di Balairung Universitas Indonesia. Alasan kedua, alasan subjektif saya: Semar adalah salah satu tokoh wayang idola saya. Alasan ketiga, kondisi kampus kita, kampus kebanggaan Indonesia – Universitas Indonesia, yang sedang berdinamika.

Bagi orang awam, muncul pertanyaan: apa kabar Universitas Indonesia? Masihkah sibuk dengan masalah internal? Hingga pertanyaan, kok peringkat UI semakin merosot? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang lainnya.

Bagi saya pribadi, dengan digelarnya pagelaran wayang kulit dengan lakon Semar Mbangun Kayangan ini memberikan pesan kepada kita semua agar senantiasa niteni ‘mencermati’ fenomena kekinian yang sedang terjadi. Lantas, apa yang sedang terjadi di Universitas Indonesia, kini? Ya, benar, pemilihan rektor Universitas Indonesia.

*

          Amarta goyah, lagi banyak musibah. Para petinggi Amarta saat ini sedang menggelar pertemuan akbar, membicarakan strategi, dari yang ini hingga yang itu. Kresna, Setyaki, dan para pandawa – Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa sedang berdiskusi serius. Di tengah-tengah pembicaraan, datanglah Petruk, anak angkat Semar. Petruk mengutarakan maksud kedatangan dirinya ke Amarta bahwa Semar mengundang para pandawa untuk datang ke rumahnya, di Karang Kabulutan, serta meminjam tiga pusaka kerajaan Amarta untuk mbangun kayangan. Tiga pusaka itu terdiri atas Tumbak Kalawelang, Tunggul Naga, dan Jamus Kalimasada.

          Para pandawa dan Kresna bingung, tak paham apa yang dimaksud dengan mbangun kayangan, karena kahyangan adalah tempat tinggal para dewa di langit. Kresna bertanya pada Petruk maksud mbangun kayangan itu apa? Petruk juga tak tahu, ia hanya sebagai utusan untuk menyampaikan sebuah pesan. Dengan gaya bicara penuh dengan guyonan, Petruk berusaha menjelaskan ketidaktahuannya. Kresna pun merasa tersinggung atas ucapan Petruk yang dinilainya kurang pantas. Kresna marah. Melihat kejadian itu, Yudhistira, sang raja Negeri Amarta menyuruh Petruk untuk menunggu di luar kerajaan untuk meredakan suasana. Setelah Petruk keluar, tak lama kemudaian Kresna juga meninggalkan kerajaan bersama Arjuna.

      Petinggi Amarta melanjutkan diskusi. Bima menyarankan agar Sadewa berpendapat tentang masalah tadi. Dengan kecerdasannya yang diimbangi dengan watak ora grusa-grusu ‘tidak gegabah’ dalam mengambil keputusan, Sadewa berpandangan netral bahwa kemungkinan mbangun kayangan yang dimaksud oleh Semar bukanlah kayangan Suralaya, melainkan tak lain dan tak bukan adalah hati nurani serta kepribadian kita sebagai para pandawa. Sebab, ketiga pusaka yang diminta Semar adalah simbolisasi dari suatu makna. Jamus Kalimasada adalah pusaka yang dapat membangun rohani para pandawa. Tumbak Kalawelang adalah simbol ketajaman, dan dapat dimaknai untuk membangun ketajaman hati, kepekaan sosial. Dan, Payung Tunggul Naga adalah payung yang berfungsi untuk meneduhkan hati. Yudhistira, Bima, dan Nakula sependapat dengan Sadewa, dan mereka memantapkan hati dengan cara bersemedi di tempat penyimpanan ketiga pusaka itu. Setelah mendapat keyakinan hati, mereka berangkat menuju ke Karang Kabulutan.

       Di tempat lain, Kresna dan Arjuna menemui para putranya yaitu Gatotkaca dan Antareja ditambah Setyaki. Kresna menemui mereka dengan maksud untuk memerintah mereka menyerang Petruk. Tujuannya satu, agar Petruk pulang ke rumahnya dan menangguhkan niatnya mbangun kayangan. Di waktu yang sama, di luar istana Amarta, Petruk bertemu dengan salah satu putra Bima, Antasena namanya. Petruk pun lalu menceritakan semua kejadian yang terjadi di dalam istana tadi, dan ternyata pemikiran Antasena sama dengan Sadewa. Dalam benak Antasena, Petruk akan mendapatkan masalah karena kejadian tadi. Akhirnya, Antasena membantu dengan cara masuk ke dalam tubuh Petruk sehingga Petruk menjadi sakti mandraguna.

          Pada awalnya, Setyaki menemui Petruk dan menyerangnya habis-habisan. Walau Setyaki sudah mengerahkan seluruh tenaganya, ia tetap kalah dalam pertarungan. Karena kalah, Setyaki melaporkan kekalahannya tadi kepada Gatotkaca. Atas laporan kekalahan Setyaki tersebut, Gatotkaca langsung berangkat menyerang Petruk yang telah dilindungi oleh Antasena yang merasuki tubuhnya. Terjadilah pertarungan yang sengit diantara keduanya yang sama-sama kuat. Di dalam pertarungan itu, Petruk mencoba menjelaskan tentang maksud mbangun kayangan sesuai pendapat Antasena. Gatotkaca pun menerima pendapat tersebut, lalu berhentilah pertarungan diantara mereka.

          Antareja menunggu dan menunggu, tetapi tak kunjung menemuinya. Ia pun langsung berangkat menyusul. Saat bertemu Petruk lagi, ia langsung menyerangnya, dan lagi-lagi kalah. Ia kabur. Lalu, ia melaporkan pertempuran tadi kepada Kresna dan Arjuna. Dalam kondisi yang semakin kacau, Kresna mengajak Arjuna menuju ke kayangan Suralaya untuk melapor kepada Bathara Guru sebagai raja para dewa. Sesampainya mereka ke kanyangan Suralaya, terlihat Bathara Guru sedang berbincang dengan Bathara Kaneka, dan juga Bathari Durga. Kresna pun bercerita tentang kejadian di bumi. Akhirnya, Bathara Guru sependapat dengan Kresna untuk menyerang Karang Kabulutan. Kresna pun disuruh kembali ke bumi, dan tinggallah Bathara Guru dan Bathara Kaneka di Suralaya.  Bathara Kaneka menyampaikan pendapatnya yang sama dengan Sadewa kepada Bathara Guru. Akan tetapi, ia tidak menghiraukan pendapatnya.

          Saat Kresna melapor kepada Bathara Guru, Petruk dan Antasena bersisipan dengan ketiga pusaka yang terbang tadi. Ketiga pusaka tersebut memutuskan mengikuti Petruk ke Karang Kabulutan. Lalu, Petruk pun pulang bersama ketiga pusaka itu. Akan tetapi, dalam benak Petruk ada rasa takut kalau dirinya dituduh sebagai pencuri. Sementara itu, Antasena memutuskan untuk kembali ke Amarta terlebih dahulu, dan kemudian akan menyusul ke Karang Kabulutan. Di Amarta, Arjuna dan Antasena yang baru saja tiba langsung memberi pengertian terhadap Antareja dan Setyaki.

        Di tempat lain, Kresna dan Arjuna berencana menyerang Karang Kabulutan, tempat tinggal Semar. Keduanya menyamar agar tidak dicurigai oleh Semar, Arjuna menyamar sebagai raksasa sebesar gunung, dan Arjuna menyamar menjadi harimau. Keduanya bertarung dengan Semar. Akan tetapi, keduanya bisa dikalahkan oleh Semar.

       Mengetahui keributan di bumi, Bathara Guru turun dari kayangan untuk menyerang Semar. Lagi-lagi, Semar yang sejatinya adalah penjelmaan dewa, yaitu Bathara Ismaya, dapat mengalahkan adiknya, Bathara Guru. Setelah semua konflik dan pertarungan sengit berakhir, Semar mengumpulkan para pandawa, anak-anaknya, beserta Bathara Guru. Semar menjelaskan maksud meminjam tiga pusaka Amarta untuk mbangun kayangan. 

          Sejatinya, makna dari mbangun kayangan adalah Semar sebagai tetua dan penasihat kerajaan Amarta, ingin membentuk rohani dan jiwa para pandawa sebagai penguasa kerajaan Amarta. Hal ini sesuai dengan prediksi Sadewa, ketiga pusaka tersebut memiliki arti serta menyimbolkan sifat-sifat yang dibutuhkan oleh para pemimpin.

*

     Dengan mengetahui jalannya cerita lakon Semar Mbangun Kayangan, kita dapat mengambil pesan moral yang berkaitan dengan keadaan Universitas Indonesia saat ini. Paling tidak terdapat tiga ajaran luhur yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan di kampus, misalnya:

Pertama, ajaran luhur mencapai “kesempurnaan hidup” seperti yang dicontohkan oleh Semar yang memiliki niat untuk membangun rohani para Pandawa. Jika dalam konteks ke-UI-an, seyogianya seorang pimpinan kampus haruslah memiliki niat yang suci untuk membangun rohani para mahasiswa dan sivitas akademika, sekaligus menyelenggarakan pendidikan yang ngewongke uwong ‘memanusiakan manusia’. 

Kedua, ajaran luhur tentang “kebenaran sejati” seperti yang dicontohkan oleh Petruk yang mengemban amanah dari Semar. Walaupun ia sendiri tidak mengetahui maksudnya, tetapi ia memiliki keyakinan bahwa ayahnya benar. Jika dalam konteks ke-UI-an, seorang pemimpin haruslah amanah betapapun beratnya tantangan yang dihadapinya. 

Ketiga, ajaran luhur tentang “kebijaksanaan sejati” dan “pengetahuan sejati” seperti yang dicontohkan oleh tokoh Sadewa yang cerdas dan tetap tenang dalam menyikapi suatu masalah. Ia tetap pada posisi netral atau tidak memihak siapapun. Akan tetapi, ia dapat menemukan solusi yang tepat untuk suatu masalah. Jika dalam konteks ke-UI-an, seyogianya pimpinan kampus haruslah cerdas dan tidak grusa grusu ‘gegabah’ dalam memutuskan suatu kebijakan.

          Semoga dengan membaca lakon Semar Mbangun Kayangan ini, kita sebagai sivitas akademika Universitas Indonesia dapat senantiasa bijak dalam menyikapi suatu masalah demi kehidupan kampus yang lebih baik. Selamat mengawal pemilihan rektor Universitas Indonesia. Kenali riwayat hidupnya, sekaligus kenali apa yang akan dilakukannya. Silakan mengakses laman resmi pemilihan rektor Universitas Indonesia: www.pemilihanrektor.ui.ac.id. Sekali lagi, semoga rektor terpilih dapat mbangun Indonesia ‘membangun Indonesia’ menjadi lebih baik, tidak sebatas mampu mengelola administrasi kampus saja. Oleh karena itu, kita semua haruslah bersatu padu memperbaiki UI untuk Indonesia. Salam budaya!


author
A. N. Setiawan
Penulis | Memayu hayuning bawana, ngudi kasampurnan. | arifnursetiawan@live.com | Salam budaya!